Serangan Bom di Surabaya dan Sidoarjo PBNU Mengutuk Keras, Kapolri: Negara Butuh Power Menindak Kelompok Terorisme

0
328
Presiden Joko Widodo, Menko Polhukam, Kapolri, dan Panglima TNI saat meninjau lokasi serangan bom bunuh diri yang terjadi di Surabaya, Minggu (14/05/2018)

SURABAYA, Media-Bhayangkara.com

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan pelaku pengebom bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/05), diduga merupakan satu keluarga.

“Pelakunya satu keluarga,” kata Kapolri Jendral Tito Karnavian dalam jumpa pers di depan RS Bhayangkara, Surabaya, Minggu (13/05) sore.

Terduga pelaku, yaitu D (ayah), melibatkan istrinya (berinisial P) dan empat orang anaknya menjadi pengebom bunuh diri di gereja Santa Maria Tak Bercela, gereja Pantekosta di jalan Arjuno dan gereja GKI di jalan Diponegoro, Surabaya.

Menurut Kapolri, D diduga menjadi pengebom bunuh diri di gereja Pantekosta dengan menggunakan kendaraan roda empat Avanza.

Tampak garis polisi dipasang di Gereja tempat kejadian ledakan bom di surabaya

Adapun istrinya dan dua anak perempuannya menjadi pengebom bunuh diri di gereja GKI. Sementara, dua anak lelakinya (berumur 18 dan 16 tahun) diduga menjadi pembom bunuh diri di gereja Santa Maria, ungkap Jendral Pol Tito.

Dua anggota kepolisian melakukan penjagaan di sekitar lokasi kejadian di dekat sebuah gereja di Surabaya, Minggu (13/05).

“Anak perempuannya bernama FS berumur 12 tahun dan PA berumur sembilan tahun,” ungkap Kapolri, seperti dilaporkan wartawan di Surabaya, Ronny Fauzan untuk BBC Indonesia.

Sebelum meledakkan dirinya, menurut Jendral Pol Tito, D sempat mengantar istri dan dua anak perempuannya ke lokasi di dekat gereja GKI.

“Semua serangan bom bunuh diri, cuma jenis bom yang mungkin berbeda,” katanya.

Tito mengatakan, istri dan dua anak perempuannya menggunakan bom yang diikatkan di pinggangnya. “Namanya bom pinggang,” ungkap Tito.

Sementara, sambung Kapolri, dua anak lelakinya menggunakan sepeda motor untuk menjadi pengebom bunuh diri di gereja Santa Maria Tak Bercela di kawasan Ngagel, Surabaya.

Pimpinan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Surabaya

Keluarga D diduga kuat merupakan anggota organisasi Jamaah Ansharut Daulah (JAD), pimpinan Aman Abdurrahman, terpidana teroris yang kini mendekam di LP Nusakambangan.

Aman Abdurrahman juga dianggap sebagai otak berbagai serangan bom sejak 2016, diantaranya bom Thamrin Jakarta. JAD menurut Kapolri merupakan pendukung ISIS.

Analisa polisi menduga motif serangan tiga gereja di Surabaya serta kerusuhan di rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, adalah “sebagai pembalasan” setelah ISIS terdesak di tingkat internasional.

“Satu keluarga ini terkait dengan sel JAD yang ada di Surabaya. D itu adalah ketuanya,” ungkap Jendral Pol Tito.

Hasil analisa sementara polisi menduga bahwa motif serangan tiga gereja di Surabaya serta kerusuhan di rutan Mako Brimob, Kelapa Duan, Depok, adalah “sebagai pembalasan” setelah ISIS terdesak di tingkat internasional.

Sejumlah pimpinan JAD di Indonesia juga sebagian besar ditangkap sehingga mempersempit langkahnya. “Karena itulah, kelompok ini (melalui organisasi sel-selnya) bereaksi untuk pembalasan.”

Organisasi sel-sel itu, menurut Kapolri, kemungkinan terdapat pula pada sebagian orang-orang Indonesia – sekitar 500 orang yang sudah dideportasi ke Indonesia – yang pernah bergabung dengan ISIS di Suriah dan Irak.

“Ini tantangan kita, katanya mindset mereka ideologinya ISIS,” katanya.

Setelah Surabaya, Dugaan Bom Rakitan Kembali Meledak di Rusunawa Belakang Polsek Taman Sidoarjo

Ledakkan diduga bom terjadi tepatnya di belakang Polsek Taman Sepanjang, Sidoarjo.

Setelah serangan aksi bom bunuh di tiga gereja di Surabaya, kali ini ledakkan kembali terjadi di wilayah hukum Jawa Timur. Ledakkan diduga bom tersebut terjadi tepatnya di belakang Polsek Taman Sepanjang, Sidoarjo.

Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes Pol Frans Barung membernarkan informasi itu. “Benar. Anggota sedang menuju ke lokasi,” ujar Frans saat dikonfirmasi di Mapolda Jatim, Minggu (13/5)

Sementara informasi yang diterima media ini, ledakkan terjadi di Rusun Wonocolo lantai 5 Blok B belakang Polsek Taman Sepanjang. Hingga kini belum ada informasi lanjutan soal korban dari ledakan itu. Polisi juga belum bisa mengkonfirmasi kerusakan yang diakibatkan dari ledakan itu.

Saat ini polisi sedang mengecek sumber ledakan. Di lokasi sudah dipasang garis polisi dan tim penjinak bahan peledak (jihandak) juga sudah diterjunkan ke tempat kejadian perkara (TKP).

Presiden perlu membuat Perpu Antiterorisme

Lebih lanjut Kapolri mengatakan, dirinya sudah lapor ke presiden untuk melibatkan TNI dan Badan Intelijen Negara (BIN) dalam menangkap anggota sel-sel Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT).

“Saya sudah minta Panglima TNI, mengirim kekuatan untuk operasi bersama, untuk melakukan penangkapan sel-sel JAD dan JAT,” katanya.

Kapolri meminta agar pembahasan UU antiterorirme di DPR bisa berlangsung lebih cepat. “Bila perlu kita memohon Presiden untuk membuat Perpu.”

Menurut Kapolri, walaupun kelompok militan ini “terlatih untuk menghindari deteksi” aparat keamanan, kekuatan mereka tidak besar. “Mereka tidak mungkin mengalahkan negara, polisi, TNI dan kita semua.”

Untuk itulah, Kapolri meminta “dukungan” DPR agar segera menyelesaikan revisi UU antiterorisme. Alasannya, mereka mengetahui keberadaan sel-sel JAD atau JAT, tetapi mereka tidak bisa ditindak.

“Kita baru bisa bertindak kalau mereka melakukan aksi atau sudah jelas ada barang bukti,” ujar Jendral Pol Tito

Menurutnya, “kita ingin lebih dari itu, misalnya, negara atau institusi hukum menetapkan JAD dan JAT sebagai organisasi teroris”.

Dia kemudian memberikan contoh: “Kalau ada pasal dalam UU anti teroris bahwa siapapun yang bergabung organisasi teroris, maka bisa diproses pidana. Ini lebih mudah.”

Kapolri meminta agar pembahasan UU anti terorisme di DPR bisa berlangsung lebih cepat. “Bila perlu kita memohon Presiden untuk membuat Perpu.”

“Negara butuh power yang lebih,” tegas Kapolri.

PBNU Mengutuk Keras Peledakan Tiga Bom Gereja di Surabaya

Keluarga Tersangka bom bunuh diri di tiga Gereja di Surabaya.

Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1439 H, kita dikejutkan dengan aksi narapidana Terorisme di Mako Brimob serta yang terbaru, ledakan bom di tiga Gererja di Surabaya, Ahad (13/5). Rangkaian kejadian itu menunjukkan bahwa radikalisme, apalagi yang mengatasnamakan agama, sungguh sangat memprihatinkan dan mengiris hati kita semua, ujar Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Prof Dr KH Said Aqil Siroj, MA dalam pesan rilisnya yang diterima media ini.

Oleh sebab itu, menyaksikan dan mencermati dengan seksama rangkaian peristiwa di atas, khususnya peristiwa bom di tiga Gereja di Surabaya, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menegaskan:

1. Mengecam dan mengutuk keras segala tindakan terorisme, apapun motif dan latar belakangnya. Segala macan tindakan menggunakan kekerasan, apalagi yang mengatasnamakan agama dengan cara menebarkan teror, kebencian, dan kekerasan bukanlah ciri ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. Islam mengutuk segala bentuk kekerasan. Bahkan tidak ada satu pun agama di dunia ini yang membenarkan cara-cara kekerasan dalam kehidupan.

2. Menyampaikam rasa bela sungkawa yang sangat mendalam kepada keluarga korban atas musibah yang sedang dialami. Segala yang terjadi merupakan suratan takdir dan kita harus menerimanya dengan penuh sikap kedewasaan, lapang dada, ketabahan dan kesabaran.

3. Mendukung penuh upaya dan langkah-langkah aparat keamanan untuk mengusut secara cepat dan tuntas motif, pola, serta gerakan yang memicu terjadinya peristiwa tersebut. Gerakan terorisme sudah semakin sedemikian merajalela, maka diperlukan penanganan khusus yang lebih intensif dari pelbagai pihak, utamanya negara melalui keamanan.

4. Mengajak seluruh warga Indonesia untuk bersatu padu menahan diri, tidak terprovokasi serta terus menggalang solidaritas kemanusiaan sekaligus menolak segala bentuk kekerasan. Jika mendapati peristiwa sekecil apapun yang menjurus pada radikalisme dan terorisme segera laporkan ke aparat keamanan. Segala hal yang mengandung kekerasan sesungguhnya bertentangan dengan ajaran Islam dan bahkan bertentangan dengan ajaran agama apapun. Islam mengajarkan nilai-nilai kesantunan dalam berdakwah. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

‎أدع إلى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتي هي أحسن

Artinya, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan Al Hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (Q.S. An-Nahl: 125)

5. Mengimbau warga NU untuk senantiasa meningkatkan dzikrullah dan berdoa kepada Allah Swt. untuk keselamatan, keamanan, kemaslahatan, dan ketenteraman hidup dalam berbangsa dan bernegara. Nahdlatul Ulama (NU) juga meminta kepada semua pihak untuk menghentikan segala spekulasi yang bisa memperkeruh peristiwa ini. Kita percayakan penanganan sepenuhnya di tangan aparat keamanan. Kita mendukung aparat keamanan, salah satunya dengan cara tidak ikut-ikutan menyebarkan isu, gambar korban, dan juga berita yang belum terverifikasi kebenarannya terkait peristiwa ini.

6.Nahdlatul Ulama (NU) mendesak pemerintah untuk mengambil langkah tegas serta cepat terkait penanganan dan isu terorisme dan radikalisme. Langkah ini harus ditempuh sebagai bagian penting dari upaya implementasi dan kewajiban Negara untuk menjamin keamanan hidup warganya. Dan apapun motifnya, kekerasan, radikalisme, dan terorisme tidak bisa ditolerir apalagi dibenarkan, sebab ia mencederai kemanusiaan.

(D.M/M-B)

Tinggalkan komentar