Cegah Penyebaran Penyakit Difteri Dinkes Tulungagung Adakan Imunisasi

0
107
Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung kembali menggelar ORI difteri yang kali ini bertempat di TK Dharma Wanita Desa Besole Kecamatan Besuki, Selasa (20/02)

TULUNGAGUNG, Media-Bhayangkara.com

Outbreak Response Immunization (ORI) merupakan salah satu upaya penanggulangan Kejadian Luar Biasa(KLB) suatu penyakit dengan pemberian imunisasi. ORI merupakan strategi untuk mencapai kekebalan tubuh hingga sebesar 90 — 95 persen. Sehingga KLB difteri dapat di atasi.

Merebaknya kembali penyakit difteri tentu saja membuat para orang tua semakin cemas akan keselamatan buah hatinya. Dengan adanya Program ORI difteri memang membuat warga sedikit merasa lega, sebab ORI adalah satu satunya cara yang paling efektif dalam mencegah penyebaran penyakit difteri agar tidak meluas.

Untuk itulah Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung kembali menggelar ORI difteri yang kali ini bertempat di TK Dharma Wanita Desa Besole Kecamatan Besuki, dengan peserta imunisasi 45 anak.

8 orang tim medis dari Puskesmas Besuki pun di turunkan untuk melakukan penyuntikan imunisasi serta di dampingi langsung oleh Babinsa Desa Besole Sertu Muali, anggota Koramil 0807/17 Besuki. Selasa(20/02/18).

Difteri adalah penyakit yang mudah sekali menular yang di sebabkan oleh bakteri. Penularannyapun dapat melalui percikan dahak ataupun bersin dari penderita difteri. Apabila terlambat di tangani penyakit ini dapat menimbulkan kematian.

Salah satunya cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit difteri adalah dengan jalan imunisasi.

Dengan ORI difteri di maksudkan memutuskan mata rantai penyakit difteri dengan segera, menurunkan jumlah kasus difteri serta mencegah agar penularan tidak semakin meluas.

Salah satu penghalang dalam melaksanakan program ini adalah adanya gerakan anti imunisasi akhir akhir ini telah menyebabkan banyak orang tua menolak putra putrinya di imunisasi. Program imunisasi sebagai program nasional seharusnya di ikuti dan dilaksanakan oleh semua masyarakat. Maka kelompok anti imunisasi perlu di atasi dengan cara pendekatan tersendiri dan terencana.

Sertu Muali mengatakan bahwa, “masyarakat harus mengetahui dan memahami bahwa setelah imunisasi difteri, kadang kadang timbul demam, bengkak dan nyeri di bekas suntukan, yang merupakan reaksi normal dan akan hilang dalam beberapa hari. Jadi para orang tua tidak perlu cemas. Segera kompreslah dengan air hangat di bekas suntikan dan berilah minum yang banyak pada anak, ” tegasnya.

Marilah kita lengkapi jadwal imunisasi putra dan putri kita agar senantiasa terhindar dari segala penyakit berbahaya.

Publish : Manroe

Tinggalkan komentar