Emrus : Pasca Kepemimpinan SN, Siapa Yang Pimpin Golkar?

0
161

JAKARTA, media-bhayangkara.com

Pasca penetapan SN sebagai tersangka untuk kali kedua, sebagaimana dimuat pada link di bawan ini, Golkar harus berbenah diri lebih cepat lebih baik. Harus berpacu dengan waktu. Politik itu juga menyangkut timing. Sekarang atau tidak sama sekali. Utamanya mempersiapkan, dan tepat momentum, menetapkan dan mendeklarasikan sosok Ketum dan Sekjen Golkar pasca SN – IM.

Ketum dan Sekjen Golkar ke depan, harus sosok yang mampu merangkul sekaligus mempersatukan semua faksi di internal Golkar.

Selain itu, kedua tokoh ini harus mampu menjalin komunikasi politik dengan pemerintahan Jokowi. Sebab, Golkar sudah mendeklarasikan mendukung pemerintahan Jokowi. Bahkan telah menyatakan mengusung dan memenangkan Jokowi menjadi Capres pada Pilpred 2019.

Menurut saya, sosok pemimpin Golkar pasca SN – IM yang paling mendekati untuk mewujudkan hal tersebut di atas, ada pada AH, yang saat ini menjadi menteri, sebagai Ketum Golkar dan ADK sebagai Sekjen Golkar, yang selama ini menggelorakan gerakan moral untuk perubahan di internal Golkar.

Bila melihat kilas balik konflik internal Golkar, menghasilkan kepengurusan ganda, ARB – IM dan AL – ZA. Kemudian, terjadi munaslub menetapkan kepengurusan SN – IM, sebagai Ketum dan Sekjen. Karena itu, tak terhindarkan di internal Golkar muncul setidaknya tiga faksi arus utama.

Belum lagi ada faksi dan atau sub faksi atas dasar pengaruh dari tokoh-tokoh senior, seperti JK, AT, AL, dan ARB.

Sebenarnya, duet kepengurusan SN – IM ini diharapkan bisa menyatukan Golkar. Namun, gejolak politik di internal Golkar terus berlangsung di tengah wacana SN terkait dengan kasus E-KTP. Bahkan SN pun menjadi tersangka yang berujung proses praperadilan yang memenangkan SN dari status tersangka.

Gejolak politik di internal Golkar terus terjadi pada kepemimpinan SN – IM. Bahkan pecat memecatpun dilakukan seperti yang terjadi pada kepengurusan sebelumnya. Karena itulah, persepsi publik terhadap partai ini pun sangat tidak produktif.

Di tengah SN menjadi tersangka kali kedua ini, secara teoritis, ini akan menjadi beban bagi Golkar dan juga bagi SN sendiri untuk mengikuti proses hukum selanjutanya.

Melihat beban berat ini, Golkar sebagai lembaga partai politik yang lebih “dewasa” dengan kader yang mumpuni, sudah waktunya Golkar mengambil garis tegas, bagaimana menyelamatkan Golkar dari kekuatan dan kepentingan politik seseorang atau dari sekelompok yang sangat sedikit di Golkar itu sendiri. Intinya, jangan sandera Golkar pada persaingan Pilkada 2018 dan Pileg serta Pilpres 2019 dan kerja-kerja politik untuk kepentingan bangsa dan negara.

Untuk itulah, seseorang yang merasa menjadi beban politik bagi Golkar, sebaiknya mengambil sikap legowo untuk mundur dari setral kekuasaan di tubuh Golkar. Lebih cepat lebih baik.

Trims
Emrus Sihombing
Direktur Eksekutif
EmrusCorner

Baca juga : Referensi https://m.detik.com/news/berita/d-3715740/kpk-kembali-tetapkan-novanto-jadi-tersangka-kasus-e-ktp

(D. Manroe)

Tinggalkan komentar