Ada Yang Ingin Buat Kafe Di Pulau Gede, Warga Bereaksi !

0
101

KALIORI,  Media Bhayangkara.com

Seorang investor dari Jakarta sempat melakukan survei ke Pulau Gede sebelah utara dusun Wates desa Tasikharjo kecamatan Kaliori, ingin membuat kafe. Namun gagasan tersebut langsung ditolak warga, karena khawatir akan memicu kerawanan sosial.

Heri Prasetyo, tokoh pemuda dusun Wates yang juga ketua pengelola Pantai Pasir Putih dusun Wates mengatakan begitu muncul ide pembangunan kafe, ia maupun masyarakat umumnya tidak setuju. Tapi kalau ada investor ingin membuat semacam resort atau penginapan keluarga, warga mendukung, demi meningkatkan daya tarik wisatawan luar daerah atau bahkan luar negeri.

Ia sempat mendengar informasi mengenai rencana konservasi Pulau Gede dari pemerintah pada tahun 2018 mendatang, salah satunya membangun jety atau dermaga. Dengan keberadaan dermaga, akan memberikan estetika lebih bagus, serta memudahkan ketika perahu ingin bersandar.

“Kalau investor dari Jakarta itu, kami nggak tahu apakah cuma iseng atau serius. Tapi yang jelas masyarakat nggak mau kalau bikin kafe. Kecuali semacam resort, ndak apa – apalah, selama tidak disalahgunakan. Perkembangan lain, kabarnya Pemkab Rembang mau mengkonservasi Pulau Gede. Kalau nggak salah dananya Rp 2 Miliar, termasuk untuk membuat dermaga. Karena dusun Wates menjadi titik terdekat dengan Pulau Gede, saya berharap akan merasakan imbas positifnya, “ kata pemuda yang akrab disapa Pras ini.

Heri Prasetyo mengakui Pulau Gede menjadi nilai tambah bagi pengembangan wisata kedepan. Tapi untuk Pantai Pasir Putih di sebelah selatan Pulau Gede kondisinya masih dihantui gangguan pembuangan limbah pabrik pengolahan ikan. Seperti hari Selasa (31/10), air di pinggir pantai berwarna hitam pekat, karena limbah pabrik bermuara di tempat tersebut. Pihaknya tidak mempunyai kewenangan menindak pabrik. Berulang kali sudah menyampaikan kepada DPRD maupun dinas terkait, namun belum ada penanganan serius.

“Kita pernah diajak Sidak ke pabrik, kami sampaikan keluhan limbah itu mengganggu kenyamanan pengunjung wisata, merugikan petani tambak maupun mengancam ekosistem laut. Kondisi ini berpengaruh terhadap nelayan pinggiran. Misalnya hari ini pantai normal dan bersih, lain waktu kotor lagi, “ imbuhnya.

Menurutnya, penindakan limbah dihadapkan serba dilema. Kalau masyarakat terdampak demo, warga sekitar yang bekerja di pabrik, rawan menganggur. Apabila dibiarkan, lama kelamaan pencemaran akan semakin parah. Sementara sampai sekarang belum muncul kesadaran dari mayoritas pengelola pabrik. Ia mengusulkan sejumlah pabrik patungan dana untuk melakukan pengolahan limbah secara terpadu, agar pengeluaran lebih ringan.

(Hr_76)

Tinggalkan komentar