Ini Dia 7 Alasan, Mengapa Polisi Harus Memanfaatkan Media Sosial Secara Efektif ?

0
215

JAKARTA, media-bhayangkara.com

Fantarei  : “Masa lalu adalah merupakan cerminan masa kini, dan menjadi tunas-tunas bagi masa mendatang.” ( Heralictus)

Berikut adalah 7 Alasan, Mengapa Polisi harus memanfaatkan media sosial secara efektif?

1.Sentimen Publik Tidak Berimbang , ” Jangan Sampai Masyarakat kehilangan Kepercayaan”

Analisis dampak perubahan sosial masyarakat yang dinamis, Dinamika Organisasi dan  pesatnya perkembangan media sosial telah  nyata mampu mempengaruhi  sentimen publik terhadap polri, Oleh karena itu kepercayaan masyarakat ( trust ) harus tetap di pelihara, ” Jangan sampai masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap Polri”

Beberapa catatan dan rentetan tantangan Polri dalam mempertahankan reputasi dan kepercayaan masyarakat, menjadi sebuah pertanyaan analisis ketidak berdayaan Polri keluar dari krisis dan tekanan publik yang terbangun melalui sebuah bangunan opini yang dimunculkan melalui Media, baik dalam konteks media berita  maupun media social. Misalnya, ketidak mampuan Polri dalam hal counter opini negatif, ketidak mampuan polri dalam mengelola berita dan media setting membuat berita yang diterima publik tidak berimbang menjadi salah satu penyebab utamanya

Kita lihat bagaimana tidak berdayanya Polri ketika secara masif,  opini negatif menyerang institusi Polri dalam  friksi cicak dan buaya jilid 1 dan  2, juga bagaimana ketidak berdaya nya Polri ketika proses pengungkapan  kasus pidana yang melibatkan oknum- oknum Instansi Penegak hukum lain, kemudian di hentikan dengan berbagai alasan dan salah satunya adalah karena “tekanan publik”,  lagi lagi dampak setting an opini yang dibangun melalui media berita dan media sosial telah mampu mempengaruhi sebuah keputusan sebuah proses peradilan, , bahkan seolah-olah  “Opini telah mengalahkan hukum sebagai panglima dalam penegakan hukum”

Dampak dari itu semua adalah sentimen publik terhadap Polri kurun waktu tahun 2014 menurun tajam berdasar Data  IMM ( Intelegen Media Manajemen ) tahun 2015 di pemberitaan media tentang sentimen publik terhadap Polri  masih jauh dari harapan 42 % positif  dan 58 % negatif , sangat tidak berimbang, padahal Polisi sudah banyak berbuat untuk menjaga keamanan di negeri ini,  mengapa hal ini terjadi ? salah satu nya karena  arus informasi yang dirilis media dan  di terima masyarakat lebih banyak memberitakan Bad news Polri atau berita negatif Polri

2.Pesatnya Perkembangan Media Sosial,  Polri harus dapat mengambil keuntungan dari hadirnya media sosial “ Jangan Biarkan Opini tidak di jawab”

Media sosial adalah media yang paling banyak di gunakan publik, medsos telah menawarkan cara membangun komunikasi , merubah pola interaksi sosial, cara berkomunikasi lebih efektif, mengubah dengan cepat perilaku dan gaya hidup , membangun komunitas serta mampu membentuk persepsi dan opini publik secara cepat

Melalui pembentukan opini publik di medsos secara terstruktur dan masif,  dapat dipergunakan untuk kepentingan memutar balikkan fakta yang sebenarnya seperti halnya kelompok tertentu yang ingin menggunakan medsos untuk kepentingan ingin menjatuhkan citra Polri. Sebagai contoh pengawalan Lamborgini oleh Polisi, dengan maksud agar kelompok itu tidak liar di jalan, justru opini yang timbul adalah “kalau orang kaya, melanggar di kawal” hal ini timbul sebagai akibat publik menerima pesan tidak berimbang dan berita riilis Polri tidak di terima secara baik, akurat dan utuh .

Berkacamata dari kasus-kasus diatas, Polri harus respek terhadap kekuatan medsos untuk dapat memberdayakan medsos sebagai suatu kekuatan sekaligus membangun dan menyiapkan strategi untuk menyampaikan informasi secra berimbang, menjaring aspirasi dan harapan masyarakat sekaligus memanfaatkannya untuk mencounter berita negatif ,  media setting yang cenderung banyak memojokkan Polri.

Jangan biarkan Opini tidak dijawab, opini akan selalu berkembang mencari jawabannya tanpa kendali dengan berbagai penilaian sendiri, setiap opini harus di jawab secara sistematis, cepat dan akurat  agar masyarakat menerima informasi secara berimbang

“Jika Polisi tidak aktif di social media, yang lain akan mengisi kekosongan itu” (Riset  Dr. Sebastian Denef dari Institute Fraunhover, 2011), mengandung makna apabila Polisi tidak memanfaatkan Keuntungan dari media sosial , maka “kekuatan lain” yang akan mengambil keuntungan itu untuk kepentingan  Polisi sangat diuntungkan adanya keberadaan media sosial, maka polisi harus dapat mengambil keuntungan itu sebagai media efektif dan efisien.

3. Potensi Sumber Daya Manusia ( SDM ) Polri belum di manfaatkan secara maksimal menjadi follower yang militan dalam medsos

Apabila kita menghitung angka jumlah anggota Polri di Indonesia saat ini yaitu sekitar 430.000 personil Polri, apabila di lihat dari  rasio kekuatan fisik dengan jumlah penduduk memang masih kurang, namun saat ini adalah abad asimetri, dimana melalui media sosial  penguasaan opini publik dapat dengan mudah tercover. Medsos akan menjadi kartu truff bagi keberhasilan Polri dalam menjalankan visi, misi dan strateginya

Tidak ada yang tidak melek Media sosial saat ini, termasuk bagi anggota Polri sendiri. Apabila seluruh anggota polri adalah follower Medsos Polri yang militan, ketika ada berita yang menggiring opini negatif, semua anggota polri secara serentak bersama sama melakukan upaya counter opini. Kekuatan opini ini akan lebih kuat dan dasyat lagi bila di tambah dengan anak istri polisi, Keluarga Besar Polri dan Mitra Polri serta komunitas-komunitas yang tergalang secara militan. Apabila semua komponen tadi  dapat di manfaatkan secara maksimal dalam wadah media sosial, Posisi Polri akan tampak begitu tangguh dan luar biasa besar untuk melakukan sebuah perubahan.

4. Polisi  adalah Sumber Berita,

Sejatinya Polisi adalah sumber berita dan pemberitaan yang menarik bagi publik . Namun, ketika prosentase pemberitaan Polri hanya terekspos keburukan kinerja polisi saja sedangkan kegiatan positif dan keberhasilan polri tidak banyak dipublikasikan, yang terjadi adalah arus informasi yang tidak berimbang,

Polri bukan hanya menyediakan berita bagi Media lain, tetapi harus mampu mengolah dan mengelola sendiri berita Polri “

Mainset yang telah di tanamkan oleh media kepada publik terfokus pada keburukan polri, sedangkan usaha dan kegiatan dalam mencapai keamanan warga masyarakat dianggap sebagai hal yang biasa dan tidak menarik untuk di publikasikan. Lantas pertanyaannya, adalah “kekosongan itu siapa yang akan mempublikasikan? , Polisi lah yang harus mempublikasikannya yaitu dengan mengolah dan mengelola berita sendiri di media nya sendiri baik dalam skala daerah, nasional atau bahkan internasional dengan memanfaatkan sumber daya yang sangat melimpah di Polri

5. Merubah Pesimisme atas media yang di buat oleh Polri  ,”Polisi tidak dididik menjadi jurnalis”

Aroma Pesimis seperti itu bahkan sering kali kita dengar dalam berbagai diskusi dan seminar yang melibatkan media. Namun bukankah UU No. 14 tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik mewajibkan polisi untuk membuka diri secara transparan, untuk selalu memberikan informasi yang dibutuhkan masyarakat setiap saat, informasi serta merta dan informasi yang di kecualikan

Memang polisi tidak didik untuk menjadi jurnalis, tetapi polisi mengemban juga mengemban fungsi jurnalis . Soal apakah Berita yang di tulis polisi menarik atau tidak hal itu terkait dengan bagaimana Polisi dapat mengemas berita itu semenarik mungkin, mendesain berita sesuai keinginan publik  sehingga menjadi Produk yang Populer di masyarakat dan dapat di terima oleh masyarakat. Atau dengan kata lain masuk dalam ranah publik.

6. Publik Mempunyai Pilihan Menafsirkan Berita

Polri harus mampu memanfaatkan peluang bahwa publik saat ini tidak bergantung kepada wartawan atau sarana media mainstream sebagai sarana tukar informasi

Publik saat ini mencari berita melalui medsos dengan mencari pada mesin pencari berita tidak bergantung apakah yang menulis itu seorang jurnalis atau wartawan atau tidak, namun publik lebih meyakini berita yang menurut publik di yakini akan kebenarannya.

Bukan hanya membaca berita yang di beritakan media cetak atau online namun komunity sharing, tukar menukar informasi, berpendapat dalam medsos menjadi pilihan yang lain untuk mendapatkan berita sesuai yang di harapkan.

Hal ini juga merupakan peluang bagi polri untuk mengolah dan mengelola berita melalui berbagai sarana media sosial

7.Analisis Media di pengaruhi dari Berita di Media, Perlunya Pembentukan Opini tentang Polisi Bersih, humanis, penolong dan Sahabat Rakyat

Jurgen Habermas ” Tidak ada pengetahuan yang berdiri sendiri, tanpa didampingi oleh kepentingan. Begitu juga banyak lembaga analisis dengan berbagai kepentingannya, semakin berita tidak beimbang di media, analisis pada suatu peristiwa pun dapat menjadi pengadilan publik dan pengadilan media. Sehingga muncul

Istilah pembunuhan karakter atau penghancuran reputasi yang belakangan ini sering digunakan dengan menggunakan analisis media untuk memojokkan citra seseorang maupun lembaga

Masyarakat sangat mengharapkan Polri  yang bersih, polisi yang  dapat menuntaskan berbagai persoalan kamtibmas. Polisi humanis, sebagai penolong dan sahabat masyarakat. Hal ini perlu terus di publikasikan terus menerus baik dari media itu sendiri, juga analisis dari para praktisi dan akademisi

Semakin kuat media mempublikasikan, secara Viral akan semakin kuat dukungan dan kepercayaan masyarakat terhadap Polri.

Penulis : Kang Iqbal Asik96

Publish : D.Manroe

Tinggalkan komentar